MAIN BASKET
ED 28 2014

MAIN BASKET Magazine ED 28 2014


Full Premium Package

Read this and other thousands books & magazines for

Rp 89.000

Digital X Kompas.Id 1 Bulan Premium Package

Read this and other thousands books & magazines for

Rp 129.000

Digital X Kompas.Id 3 Bulan Premium Package

Read this and other thousands books & magazines for

Rp 359.000

Digital X Kompas.Id 6 Bulan Premium Package

Read this and other thousands books & magazines for

Rp 649.000

Single Issue
Rp 29.000
Add to Cart
** Digital publication can only be read on Gramedia Digital e-reader
Description
Detail
Rating & Review
Release Date: 12 December 2014.

Tanggal 26 Oktober lalu, saya mengikuti lomba lari Jakarta Marathon. Saya mengikuti kategori Half Marathon. Setengah dari porsi maraton penuh.

Oh ya, banyak yang belum tahu bahwa satu maraton itu berjarak 42,195 kilometer. Kenapa saya bilang banyak yang belum tahu, karena saya sering berbicara dengan beberapa orang teman dan ada yang mengatakan hal-hal seperti, “Saya kemarin ikut maraton lima kilo atau 10 kilo.”

Tidak. Maraton itu 42 kilo-an. Dan setengah maraton yang saya ikuti di Jakarta Marathon berarti berjarak 21 kilometer.

Lalu ada yang bertanya berapa biaya pendaftaran untuk ikut Half Marathon di Jakarta Marathon. Saya bilang, 500 ribu. Mereka terperanjat sambil bertanya, “Kamu bisa menang?”

Tentu saya tidak akan bisa menang. Tujuan saya hanya masuk finish dengan catatan waktu yang sesuai dengan yang saya targetkan. Urusan menang, saya serahkan ke teman-teman yang datang jauh-jauh dari Kenya.

“Lalu untuk apa buang-buang uang 500 ribu, lari 21 kilo, tidak cari juara dan pergi ke Jakarta dari Surabaya (lalu kembali lagi)?”

Saya hanya tersenyum.

Beberapa hari kemudian, saya tidak ingat tanggal pastinya, ratusan bahkan ribuan bobotoh Persib mulai bergerak ke Palembang. Mereka berangkat untuk mendukung tim kebanggaan mereka, Persib Bandung berlaga di semifinal ISL, liga sepak bola tertinggi di Indonesia.

Menang melawan Arema di semifinal, para pendukung Persib harus bertahan karena panitia kemudian mengumumkan bahwa laga final akan juga digelar di Palembang.

Menyusul pernyataan ini, ratusan bus dan berpuluh pesawat berisi bobotoh Persib bergerak menuju Palembang dari berbagai penjuru.

Tanggal 7 November 2014, Persib juara setelah mengalahkan Persipura di final melalui adu penalti dengan kedudukan 5-3. Entah apa yang dirasakan ribuan pendukung Persib yang berlelah-lelah menuju Palembang saat itu. Di Bandung dan di seluruh pelosok Jawa Barat saja, rasanya tak sedikit yang menangis haru bahagia.

Atas kelakuan para pendukung Persib itu, saya tertegun. Mengingat kembali pertanyaan yang pernah dilontarkan oleh kawan saya.

Kalau boleh saya mengulangnya, maka saya akan bertanya kepada para bobotoh Persib, “Untuk apa ke Palembang kalau kamu bisa nonton final ISL di televisi?”

Tetapi tentu saya tidak akan menanyakannya. Karena saya tahu jawabannya. Atau mungkin saya tidak tahu jawabannya. Atau mungkin mereka tidak akan memberikan jawaban yang memuaskan saya.

Bagi yang tidak memahami kegilaan di balik hal-hal seperti itu, akan sulit menerima bahwa “mendukung langsung” memberikan dampak yang berbeda. Euforia yang berbeda. Histeria yang berbeda.

Hal-hal seperti itu tak bisa dinalar. Bagi saya, itu mirip seperti kegilaan. Dilakukan tanpa mempertimbangkan logika bahwa duduk-duduk di rumah saja justru lebih enak dan nyaman bahkan aman.

Dari pengalaman-pengalaman itu, saya berkesimplan bahwa manusia sebaiknya pernah melakukan satu atau dua kegilaan dalam hidupnya. Sesuatu yang secara nalar atau logika tidak masuk akal. Tidak menguntungkan dalam rasio untung-rugi.

Jika tak pernah melakukan kegilaan seperti itu –bagi saya rasanya hidup tak benar-benar berkesan.

Lalu apa hubungannya dengan NBL Indonesia?

Tidak ada. Saya cuma –lagi-lagi- teringat dengan beberapa teman yang rela keluar kota hanya untuk bertemu idola-idola mereka di NBL Indonesia. Saya tentu enggan bertanya untuk apa jauh-jauh datang dari kota yang sangat jauh hanya untuk nonton NBL Indonesia. Toh, semua laga bisa disaksikan lewat streaming di internet. Bagi saya, mereka semua yang melakukan itu adalah orang-orang gila. Dan gila dalam definisi ini memiliki makna yang sama dengan keren!

Demikianlah kurang lebih saya melihat bahwa kegilaan kadang kala memang menjadi kebutuhan manusia yang sebaiknya dituruti atau dipenuhi. Tidak gila, tidak keren.

Sebelum menutup catatan ini, saya mau sombong sedikit kepada teman-teman yang bertanya tentang keikutsertaan saya di Jakarta Marathon. Saya finish Half Marathon di urutan 344 dari 1732 pelari yang masuk finis. Tidak keren. Karena catatan raihan saya di Jakarta Marathon tahun lalu jauh lebih baik.

Di urutan pertama ada Joseph Mwangi Ngare. Orang Kenya. Dia sudah latihan seperti orang gila. Tapi tentu dia tidak gila. Dia sudah menghitung bahwa dengan latihan rutinnya di Kenya, uang pendaftaran sebesar 500 ribu rupiah bisa menjelma menjadi 70 juta rupiah!

Language : Indonesian
Country : Indonesia
Publisher : JP RADAR
Page Count : 80
Rating & Review
No review for this product yet.
© 2010 - 2020 All Rights Reserved. Gramedia Digital is a registered trademark of Gramedia Digital Nusantara.
Loading...
Loading...