MAIN BASKET
ED 27 2014

MAIN BASKET Magazine ED 27 2014


Full Premium Package

Read this and other thousands books & magazines for

Rp 89.000

Digital X Kompas.Id 1 Bulan Premium Package

Read this and other thousands books & magazines for

Rp 129.000

Digital X Kompas.Id 3 Bulan Premium Package

Read this and other thousands books & magazines for

Rp 359.000

Digital X Kompas.Id 6 Bulan Premium Package

Read this and other thousands books & magazines for

Rp 649.000

Single Issue
Rp 29.000
Add to Cart
** Digital publication can only be read on Gramedia Digital e-reader
Description
Detail
Rating & Review
Release Date: 01 November 2014.

Itulah slogan yang muncul pertama di benak saya waktu pertama kali membuat blog Mainbasket (mainbasket.wordpress.com) sekitar enam tahun lalu. Tidak berpikir apa-apa waktu menulis itu. Seperti anak kecil yang ditanya ingin menjadi apa ketika besar nanti. Lalu si anak spontan menjawab ingin jadi presiden atau astronot.

Ketika blog Mainbasket mulai banyak yang membaca, saya mulai menerima banyak komentar tentang slogan itu. Mulai dari yang mengatakan keren (hanya satu-dua) sampai yang terkekeh-kekeh mengatakan itu “ngimpi”. Mengatakan bahwa slogan itu bak mimpi di siang bolong memang mudah. Apalagi bila kita langsung membandingkan kekuatan basket nasional kita dengan teman-teman LeBron James di tim basket nasional Amerika Serikat. “Jangankan di dunia, di Asia Tenggara saja kita masih sulit menghadapi Filipina,” begitu komentar umum yang paling realistis.

Saat menulis slogan itu, saya sadar bahwa menjadi jawara dunia tidaklah semudah memecahkan telur ayam dengan menginjaknya. Mungkin butuh 10, 20, 30 atau bahkan 50 tahun atau lebih untuk mencapainya. Saya bukan tipe orang-orang yang merasakan euforia ketika Joko Widodo terangkat menjadi presiden dan berharap besok pagi Indonesia sudah semaju negara-negara dunia kesatu. Saya tahu itu membutuhkan proses panjang, tetapi sangat mungkin tercapai. Di tengah perjalanan –bersama orang-orang yang menurut saya sedang- menuju tercapainya slogan itu, saya tersentak betapa kita sebenarnya sangat dekat dan bahkan mungkin sudah mencapai tujuan “Indonesia Jawara Basket Dunia”.

Awalnya, saya hanya memaknai “Jawara basket dunia” sebagai jawara ketika bertanding basket konvensional lima lawan lima. Tetapi kemudian saya melihat bahwa “basket” sebenarnya lebih besar daripada itu. Basket bisa bermakna macam-macam.

Paling sederhana adalah ketika FIBA menggalakkan basket 3x3. Sejak tahun 2012 lalu, FIBA sibuk menggelar kejuaraan dunia. Kemudian pada kejuaraan dunia FIBA 3x3 World Tour di Tokyo bulan Oktober kemarin, Indonesia yang diwakili tim Safe Care Jakarta berada di posisi ketujuh! Hanya berjarak dua pertandingan dari “Jawara basket dunia”. Dan kita berada satu peringkat di atas wakil AS, tim dari kota Denver.

Kemudian saya ingat lagi bahwa Fandi Andika Ramadhani pernah keluar sebagai juara di lomba tembakan tiga angka di FIBA 3x3 World Tour 2012 di Istanbul, Turki. Bukankah ini salah satu dari “Jawara dunia”? Saya memang terdengar seperti mencari-cari pembenaran atas impian saya yang terdengar terlalu di awang-awang. Tetapi saya tidak mau berhenti mencari-cari pembenaran itu. Salah duanya adalah ketika saya menemukan bahwa kompetisi basket pelajar (DBL) kita sangat-sangat besar.

Diselenggarakan di 25 provinsi dengan puluhan ribu peserta, lagi-lagi saya berpikir bahwa kita (mungkin) adalah negara yang memiliki kompetisi basket pelajar terbesar di dunia. Bukankah itu juga “jawara dunia”? Akhir Oktober lalu, tepatnya dari tanggal 23-26 Oktober, kita juga melihat digelarnya puncak Loop 3x3 Competition National Championship. Diikuti oleh lebih dari 10.000 peserta yang tergabung di dalam 2.500 tim lebih, ini juga boleh jadi merupakan kompetisi basket 3x3 pelajar terbesar di dunia. Kita juga “jawara dunia” kalau kita mau melihat ini sebagai prestasi.

Ok, saya sepakat bahwa banyak yang masih menuntut bahwa “jawara basket dunia” sejatinya adalah mendominasi dan juara di turnamen basket lima lawan lima. Baik di turnamen FIBA World Cup atau Olimpiade empat tahunan. Tetapi saya juga selalu berharap akan lebih banyak lagi yang mengapresiasi bahwa kita sebenarnya sudah banyak berprestasi di tataran-tataran basket lainnya.

Semakin banyak yang mengapresiasi, semakin mudah kita mengejar target yang terlihat muluk-muluk tersebut. Saya tahu, masih sangat banyak yang pesimis bahwa itu akan tercapai. Tetapi saya juga tahu di hati kecil mereka yang pesimistis pasti ingin agar kita bisa jadi jawara basket dunia. Mereka hanya tidak tahu atau tidak bisa melihat bahwa itu sangat mungkin terjadi.

Language : Indonesian
Country : Indonesia
Publisher : JP RADAR
Page Count : 80
Rating & Review
No review for this product yet.
© 2010 - 2020 All Rights Reserved. Gramedia Digital is a registered trademark of Gramedia Digital Nusantara.
Loading...
Loading...