MAIN BASKET
ED 30 2015

Jual Majalah MAIN BASKET ED 30 2015


Full Premium Package

Baca item ini dan puluhan ribu buku serta majalah lainnya hanya

Rp 89.000

Digital X Kompas.Id 1 Bulan Premium Package

Baca item ini dan puluhan ribu buku serta majalah lainnya hanya

Rp 129.000

Digital X Kompas.Id 3 Bulan Premium Package

Baca item ini dan puluhan ribu buku serta majalah lainnya hanya

Rp 359.000

Digital X Kompas.Id 6 Bulan Premium Package

Baca item ini dan puluhan ribu buku serta majalah lainnya hanya

Rp 649.000

Eceran
Rp 29.000
Tambahkan
** Publikasi digital hanya dapat dibaca dari e-reader Gramedia Digital
Deskripsi
Detail
Ulasan Anggota
Tanggal rilis: 04 February 2015.

Pertengahan Januari lalu saya dikirimi foto melalui twitter. Foto itu bergambar sebuah pertandingan basket di dalam sebuah arena di Klaten, Jawa Tengah. Menyertai foto tersebut, si pengirim mengatakan, “Masih ada ratusan penonton di luar arena yang tidak bisa masuk karena GOR sudah penuh.”

Awalnya saya merasa biasa saja. Kejadian seperti itu sudah sering bahkan hampir selalu terjadi di setiap pergelaran DBL, liga pelajar terbesar di Indonesia. Kemudian saya terperanjat. DBL tidak menggelar turnamen di Klaten. Saya terbiasa mengetahui bahwa pergelaran basket yang ramai adalah yang diselenggarakan oleh DBL. Keramaian di Klaten bukan karena DBL.

DBL adalah lokomotif kebangkitan basket Indonesia. Ia digelar di 25 kota di seluruh Indonesia. Dari Banda Aceh sampai Jayapura. Ditunggu-tunggu oleh ribuan peserta dan jutaan penonton. Itu belum termasuk kelompok pemandu soraknya, serta liga JrBL untuk para pelajar SMP. Meriah. Meriah sekali.

Menyaksikan DBL secara keseluruhan sepanjang tahun memang akan membuatnya terlihat meriah. Rasanya tak ada turnamen olahraga yang bisa menandingi kemeriahan DBL sepanjang tahun kecuali liga sepak bola profesional kita.

Tapi, kemeriahan sepanjang tahun ini akan terlihat berbeda kalau kita melihatnya lebih mendalam. Lebih rinci. Tidak hanya melihatnya secara keseluruhan.

DBL dalam kompilasi memang terlihat sangat meriah. Tetapi bila kita berada di salah satu kota penyelenggaraan, kemeriahan ini terasa sangat singkat. Hanya sekitar satu sampai dua minggu dalam setahun.

Kalau tim sekolah kita tidak begitu kuat, rentang kemeriahan satu-dua minggu tersebut harus dipangkas lagi beberapa hari.

Padahal, persiapan untuk menyambut DBL di setiap kota pasti lebih panjang. Para pelajar-atlet dari setiap sekolah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Koreografi kompak para pendukung yang memadati tribun GOR juga membutuhkan latihan yang sepertinya tak singkat.

Oleh karenanya saya berkesimpulan bahwa kemeriahan DBL ini rasanya masih kurang sering. Bagi DBL atau PT. DBL Indonesia, kegiatannya pasti meriah karena setiap bulan selalu ada kompetisi di setidaknya dua atau tiga kota. Tapi di kota-kota tersebut ya hanya ada satu kali DBL dalam setahun yang durasinya paling lama hanya dua minggu.

Lalu, haruskah DBL menambah jumlah turnamen atau kompetisinya di setiap kota? Sebaiknya begitu. Karena DBL sudah sangat berpengalaman dan tahu mengelola kompetisi dan turnamen dengan sangat baik. Kendalanya, banyak. Salah satunya sumber daya. Semua sumber daya.

Kemeriahan kompetisi basket di Klaten yang tidak diadakan oleh DBL adalah jawaban. Kompetisi dan turnamen basket bisa dibuat oleh siapa saja. Bila mampu mencapai standar pelaksanaan seperti DBL, bagus. Karena kalau melihat antusiasme di Klaten, saya mencoba menerka bahwa turnamen basket adalah ajang yang selalu dirindukan oleh banyak pelajar. Pemain maupun teman-temannya.

DBL adalah pembawa obat penawar rindu. Jamu yang manjur tetapi hanya sekali setahun. Sementara rindu terus tumbuh melebihi frekuensi kehadiran DBL.

Saya membayangkan ada turnamen basket yang intensif bagi para pelajar di setiap kota. Satu kali setahun rasanya kurang. Dua kali setahun masih belum cukup. Tiga atau empat kali setahun mungkin ideal.

Siapa mau bikin turnamen basket pelajar lagi seperti DBL? Klaten bisa. Kamu bisa?

Bahasa : Indonesian
Negara : Indonesia
Penerbit : JP RADAR
Jumlah halaman : 80
Ulasan Anggota
Belum ada ulasan untuk edisi ini.
© 2010 - 2020 All Rights Reserved. Gramedia Digital is a registered trademark of Gramedia Digital Nusantara.
Memuat...
Memuat...