NABI MUHAMMAD BUKAN ORANG ARAB?

Jual Buku NABI MUHAMMAD BUKAN ORANG ARAB? oleh Ach. Dhofir Zuhry


Oleh Ach. Dhofir Zuhry

Non Fiction Premium Package

Baca item ini dan puluhan ribu buku serta majalah lainnya hanya

Rp 45.000

Full Premium Package

Baca item ini dan puluhan ribu buku serta majalah lainnya hanya

Rp 89.000

Digital X Kompas.Id 1 Bulan Premium Package

Baca item ini dan puluhan ribu buku serta majalah lainnya hanya

Rp 129.000

Digital X Kompas.Id 3 Bulan Premium Package

Baca item ini dan puluhan ribu buku serta majalah lainnya hanya

Rp 359.000

Digital X Kompas.Id 6 Bulan Premium Package

Baca item ini dan puluhan ribu buku serta majalah lainnya hanya

Rp 649.000

Eceran
Rp 64.900
Tambahkan
** Publikasi digital hanya dapat dibaca dari e-reader Gramedia Digital
Deskripsi
Detail
Ulasan Anggota
GoodReads
Tanggal rilis: 19 February 2020.

Belakangan ini, banyak kita dapati ironi kebangkitan gerakan-gerakan yang mengatasnamakan agama dan “jualan” agama demi tujuan tertentu. Dampaknya, agama, khususnya Islam, menjadi sebatas atribut sekadar simbol, kering dan dangkal. Sehingga, “menjadi Arab” seolah lebih penting daripada menjadi Islam, menjadi Indonesia. Padahal, Nabi Muhammad saw., bersabda, “Wahai sekalian manusia, Tuhan kalian satu, dan ayah kalian (Nabi Adam) satu. Ingatlah, tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas non-Arab, pun sebaliknya. Tidak ada kelebihan bagi yang berkulit merah atas orang berkulit hitam. Demikian sebaliknya, kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan?” Mereka menjawab, “Ya, benar Rasulullah, engkau telah menyampaikan.” (HR. Ahmad/22.391). Ini senada dengan pesan Al-Qur’an dalam surah Al-Hujurat, 13 dan Al-Isra, 70.

Bahkan, leluhur baginda nabi bukan orang Arab. Nabi Ismail bin Ibrahim as., berasal dari distrik Orkelda atau Ur Kaldan, negeri Babilonia. Nama Ismail adalah arabisasi dari bahasa Ibrani, Yishma yang artinya senantiasa mendengarkan Tuhan dan Tuhan mendengarnya. Oleh karena itu, kepribadian beliau sangat berbeda dengan Arab pribumi (QS. At-Taubah: 97). Benarkah? Lagi pula, apa pentingnya membanggakan suku dan nasab, toh leluhur umat manusia secara biologis itu satu, suci dan mulia, berasal dari surga. Sementara itu, muasal seluruh makhluk secara spiritual, nous dan logos kita satu, yakni Nur Muhammad.

Pertanyaannya, “Mengapa kita harus tetap tinggal dan menjadi Indonesia?”. Tempat terbaik untuk memulai hidup baru yang berkualitas adalah tempat Anda tinggal sekarang. Setiap kali kita berandai-andai menolak Indonesia, kita akan semakin jauh dari kebahagiaan. Indonesia adalah tempat kita lahir dan berpijak, bersujud, berkarya, menanam harapan, bahkan nanti Tanah Air ini juga yang akan mendekap ketika kita dikuburkan suatu saat. Tidak harus menjadi Arab dan Eropa, apalagi Amerika, sebab Indonesia adalah identitas kita. Kita tetap bisa berislam dengan berindonesia, beragama sembari bernegara, menjalankan nilainilai

moral sembari menjaga tradisi leluhur. Kebinekaan adalah anugerah Tuhan, maka kita harus berlapang dada menerima perbedaan dan tetap bersatu menjaga keutuhan negara.

Bahasa : Indonesian
Negara : Indonesia
Penerbit : Elex Media Komputindo
Penulis : Ach. Dhofir Zuhry
Jumlah halaman : 226
Ulasan Anggota
Belum ada ulasan untuk edisi ini.
Edisi Rekomendasi
Edisi Rekomendasi
© 2010 - 2020 All Rights Reserved. Gramedia Digital is a registered trademark of Gramedia Digital Nusantara.
Memuat...
Memuat...