Menalar Tuhan

Jual Buku Menalar Tuhan oleh Franz Magnis Suseno


Oleh Franz Magnis Suseno

Eceran
Rp 59.000
Tambahkan
** Publikasi digital hanya dapat dibaca dari e-reader Gramedia Digital
Deskripsi
Detail
Ulasan Anggota
GoodReads
Tanggal rilis: 28 December 2018.

Menalar Tuhan, itulah yang sejak permulaannya menjadi obsesi filsafat. Menggapai Tuhan melalui pikiran menjadi hasrat tertinggi filsafat sampai 200 tahun lalu. Seluruh filsafat India berkisar sekitar pertanyaan tentang apa yang sebenarnya menjadi dasar segala-galanya. Filsafat Yunani, 2500 tahun lalu, semula mendobrak keagamaan tradisional bersama dewa-dewinya dengan bertanya tentang hakekat dunia. Tetapi sudah Plato, yang oleh banyak ahli dianggap filosof paling besar segala zaman, menempatkan Tuhan di pusat dan puncak segala rindu manusia dan alam.


Di permulaan abad ke-21, manusia intelektual yang tetap percaya pada Tuhan berhadapan dengan pertanyaan: Apakah imannya lebih daripada sekadar warisan indah tradisi-tradisi yang sudah berumur ribuan tahun? Apakah ia dapat mempertanggungjawabkan kepercayaan pada Allah secara rasional?


Itulah pertanyaan yang mendorong buku ini. Buku ini ditulis bagi mereka yang percaya kepada Tuhan, akan tetapi tidak lagi dapat menghindar dari pertanyaan: Apakah masuk akal masih percaya kepada Tuhan? Buku ini juga ditulis bagi mereka yang tidak lagi percaya kepada Tuhan, tetapi dalam kejujuran intelektual, dan berhadapan dengan kenyataan bahwa agama kelihatan tidak cepat akan menghilang, ingin mendalami pertanyaan tentang dasar-dasar rasional kepercayaan akan Tuhan, suatu realitas di atas dan di belakang realitas satu-satunya yang langsung menyatakan diri, dunia ini.

Barangkali orang mengatakan bahwa pertanyaan ini di Indonesia tidak mendesak. Di Indonesia orang berkesan masih kental beragama. Kesannya, masalah di Indonesia bukan kekurangan, melainkan kelebihan ketuhanan. Tak ada hari di mana media tidak membawa berita yang berkaitan dengan agama dan orang-orang berketuhanan. Di Indonesia, yang menjadi masalah bukan ketuhanan, melainkan bagaimana ketuhanan dapat dihayati dengan cara yang tidak bertentangan dengan kemanusiaan yang adil dan beradab.


Tetapi overload ketuhanan itu justru mempertajam pertanyaan: Apakah orang yang ingin berpikir jujur dan berkeyakinan humanis masih dapat percaya kepada Tuhan? Bagi mereka yang merasakan pertanyaan ini buku ini ditulis. Buku ini bukan mengenai agama, melainkan mengenai Tuhan, ya Allah bagi mereka yang percaya pada satu Tuhan yang mewahyukan diri. Buku ini termasuk filsafat, Filsafat Ketuhanan. Sebagai filsafat buku ini tidak mendasarkan diri pada keyakinan salah satu agama, melainkan semata-mata pada pertimbangan-pertimbangan nalar. Buku ini menyediakan ruang diskursus di mana siapa saja diajak berpartisipasi yang bersedia untuk berargumentasi atas dasar nalar dan terbuka terhadap segala pertimbangan yang mendukung maupun tidak mendukung keyakinan bahwa ada Allah. Buku ini tidak mau ""membuktikan"" adanya Tuhan, melainkan menunjukkan bahwa di abad ke-21 pun manusia tetap dapat percaya kepada Tuhan tanpa harus menyangkal kejujuran intelektualnya.


Buku ini saya bagi dalam delapan bab.

1. Bab pertama, sebagai bab pendahuluan, bertanya untuk apa dan bagaimana Tuhan perlu dinalar.


2. Dalam bab kedua kita melihat betapa majemuk penghayatan ketuhanan dalam umat manusia. Bab ini mau membantu agar kita tidak sempit mengira seluruh umat manusia menghayati ketuhanan seperti kita sendiri.


3. Bab ketiga menggariskan perubahan-perubahan mendalam dalam pengertian diri manusia di ambang modernitas dan apa dampaknya pada pengertian tentang ketuhanan.


4. Dalam bab keempat saya membicarakan secara kritis lima tokoh ateisme modern paling berpengaruh: Feuerbach, Marx, Freud, Nietzsche, dan Sartre.


5. Bab lima membahas apa yang saya anggap tantangan terbesar terhadap penalaran tentang Tuhan, yaitu agnostisisme, anggapan – yang bertolak dari epistemologi Immanuel Kant – bahwa tentang Tuhan kita tidak dapat mengetahui sesuatu, jadi bahwa filsafat harus diam tentang Tuhan. Pembahasan ateisme dan agnostisisme membuka jalan untuk bertanya secara positif: Dapatkah nalar menemukan petunjuk-petunjuk tentang adanya Tuhan?


6. Bab enam membicarakan tiga ""jalan ke Tuhan"" yang sudah ""klasik"", argumen ontologis, argumen kosmologis dan argumen teleologis. Jalan-jalan ini mau menunjukkan bahwa apa yang kita temukan di alam pengalaman, tidak dapat dijelaskan kalau tidak ada Tuhan. Kita akan melihat bahwa, meskipun tiga jalan ini memang menunjuk pada Tuhan, tetapi juga mempunyai kelemahan-kelemahan serius.


7. Di bab tujuh saya mengikuti cara berpikir yang berbeda. Saya tidak lagi menarik kesimpulan dari realitas duniawi ke Tuhan, melainkan mencoba menunjukkan, dengan bertolak dari empat penghayatan, bahwa manusia, dalam pengalamannya dengan dunia, selalu sudah bersentuhan dengan Tuhan dan bahwa dalam arti ini – para filosof menyebutnya transendental – manusia mempunyai pengalaman tentang Tuhan, meskipun sebagai latar belakang dan bukan sebagai objek. Di antara empat penghayatan ini yang akan kelihatan bersentuhan dengan Tuhan dengan paling mengesankan adalah hati nurani.


8. Dalam bab delapan saya membahas hubungan antara Tuhan dan dunia. Di antaranya saya bahas masalah bahasa tentang Tuhan, penciptaan dan pertanyaan apakah kemahakuasaan Tuhan masih mengizinkan ruang bagi kebebasan manusia. Sebagai bahasan akhir, saya mengangkat masalah yang sejak lama dianggap masalah Filsafat Ketuhanan paling berat, yaitu bagaimana, kalau ada Allah yang mahatahu, mahakuasa dan mahabaik, bisa ada sedemikian banyak kejahatan dan penderitaan di dunia.

Bahasa : Indonesian
Negara : Indonesia
Penerbit : Kanisius
Penulis : Franz Magnis Suseno
Jumlah halaman : 248
Ulasan Anggota
Belum ada ulasan untuk edisi ini.
© 2010 - 2019 All Rights Reserved. Gramedia Digital is a registered trademark of Gramedia Digital Nusantara.
Memuat...
Memuat...