#BacaJadiLebihMudah

AUTHOR OF THE MONTH: Dodi Prananda & Naskah Perdananya yang Dikirimkan ke Penerbit Mayor

AUTHOR OF THE MONTH: Dodi Prananda & Naskah Perdananya yang Dikirimkan ke Penerbit Mayor

Dodi Prananda gemar menulis sejak berusia 10 tahun. Penulis yang lahir pada 16 Oktober 1993 ini kemudian mendalami menulis cerpen melalui sanggar menulis di Sumatera Barat. Merasa selesai dengan cerpen, ia memberanikan diri untuk mengeksplor diri lebih jauh lagi dan mencoba menulis novel.

Setidaknya enam buku telah ia terbitkan, yaitu: Musim Mengenang Ibu, Waktu Pesta, Rumah Lebah, Bintang Jatuh, Jendela dan Perantau Anti Galau. Tak berhenti di situ, Dodi Prananda terus mengasah kemampuannya sebagai penulis.

Karya terbarunya yaitu buku puisi berjudul Besok Kita Belum Tentu Saling Mengingat, yang terbit perdana melalui penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU), sudah resmi dirilis 25 November lalu. Puisi-puisi yang ada di buku tersebut, menurut Dodi Prananda adalah hasil kontemplasi dari pengalaman hidupnya.

Meski proses penerbitannya terbilang cepat, namun untuk menjadikan karya itu hingga berbentuk manuskrip yang justru bisa dibilang terjadi dalam waktu yang cukup panjang.

"Ini puisi yang pernah diendapkan lumayan lama dan dituliskan oleh diri yang hari ini. Bisa dibilang investasi untuk menulis ini sudah sekian lama. Walau proses terbitnya terbilang ringkas," ujar Dodi Prananda kepada Gramedia Digital, saat bincang santai di Permata Hijau Suites, Jakarta Selatan, belum lama ini.

"Ini (Besok Kita Belum Tentu Saling Mengingat) sekitar lima bulan lalu mengirim naskah ke penerbit, lalu ada respon, terus mencari ilustrator, kemudian memperbaharui beberapa judul yang dianggap masih perlu beberapa polesan," lanjutnya.

Author
Dodi Prananda baru saja menerbitkan buku puisi Besik Kita Belum Tentu Saling Mengingat. (Gramedia Digital/M. Fachrio)

Sebut saja di buku terbarunya ini Dodi Prananda sudah bisa dibilang mudah menghubungi atau menggapai penerbit. Namun bagaimana pengalaman pertamanya saat menerbitkan bukunya di penerbit mayor?

Ternyata kisahnya pun terbilang unik. Kisahnya sendiri berawal sejak Dodi Prananda masih menjadi pelajar SMA dan masih menetap di Sumatera Barat.

"Impian nerbitin buku di kelompok mayor sudah ada dari SMA. Kebetulan aku sekolah di SMA 1 Padang. Itu jaraknya sekitar satu kilo ke toko buku. Jadi selalu ke toko buku setiap hari, selalu memandangi rak, bisa enggak suatu hari buku gue ada di situ? Karena selama ini kan nulisnya di koran. Walaupun sebetulnya ketika nama kita tercetak di koran kebahagiaannya sama seperti melihat buku kita di rak (toko buku)," tuturnya.

Berawal dari mimpi itu, Dodi Prananda pun membulatkan tekad untuk hijrah ke Ibu Kota. Karena Dodi Prananda pun punya mimpi lain untuk bisa menjadi mahasisa di Universitas Indonesia (UI).

"Pokoknya kuliah komunikasi, jurnalistik apalagi, tiga besarnya di pulau Jawa semua. Memang sudah enggak kepikiran juga tinggal di Padang saat itu. Akhirnya ke Jakarta," lanjutnya.


Baca juga: Dodi Prananda Si Penulis Buku Ragam Genre


Nyatanya, hijrah ke Jakarta pun tak langsung membuatnya lebih mudah untuk menggapai penerbit mayor. Pada akhirnya, ia mengikuti prosedur standar di masa itu. Di mana penulis masih mengajukan karyanya dengan cara mengirimkan manuskrip ke penerbit. Saat itu ia mengirimkan manuskrip naskahnya ke penerbit Elex Media Komputindo.

"Kenapa waktu itu Elex Media, itu setelah mencari tahu penerbit mana yang masih ramah dengan nama baru. Sangat tidak percaya diri saat itu mengirim ke GPU. Walaupun mimpinya ke GPU," ungkapnya.

Tiga bulan menanti sesuai dengan ketentuan, namun kabar tak kunjung hadir. Ia pun mencoba menghubungi penerbit melalui sosial media. Sempat terkejut, karena pihak penerbit mengatakan naskah yang dikirimkan Dodi Prananda hilang. Sampai beberapa saat kemudian datang kabar yang mengejutkan.

Author
Author of the Month December 2019: Dodi Prananda. (Gramedia Digital/M. Fachrio)

"Sekitar seminggu setelah menghubungi lewat sosial media itu dibilang kalau ternyata naskah itu ada di meja editor yang sudah almarhum. Dia membaca naskah itu lalu meninggal. Cerita ini selalu aku ulang-ulang tapi memang seperti itu kenyataannya, naskahnya belum selesai dibaca, editornya keburu meninggal sebelum memberi kepastian diterbitkan atau enggak," ucapnya dengan antusias.

Setelah naskah tersebut diketahui keberadaannya, Dodi Prananda mendapat harapan baru atas penerbitan bukunya di penerbit mayor. Naskah itu kemudian dipercayakan kepada salah satu editor, dan sang editor mengungkapkan potensi pada naskah tersebut. Hingga kemudian tercetus ide untuk menerbitkan naskah itu bersama dengan tiga nama penulis lainnya, yang juga baru pertama kali menerbitkan buku di penerbit mayor.

"Akhirnya dia menawarkan sebuah konsep, 'bagaimana kalau kita terbitkan dengan tiga penulis lain yang juga merintis karya pertamanya'. Lahir lah buku pertama dengan konsep kumpulan cerpen (dari empat penulis termasuk Dodi). Bagi saya tidak penting buku keroyokan atau buku sendiri. Tapi pengalaman setidaknya ada di lingkaran penerbit mayor dan distribusinya luas," tandasnya.

Dan benar saja apa yang dipikirkan oleh Dodi Prananda. Sejak terbitnya buku kumpulan cerpen yang berjudul Waktu Pesta itu, membuat jalan karirnya sebagai penulis terbuka lebar.

"Jadi lebih banyak pintu yang terbuka. Jadi membuka pintu ke penerbit lain, bahkan ke project berikutnya. Setelah itu ada project Jendela kan. itu sifatnya sudah offering bukan kita yang menawarkan," tutupnya.

Memang akan selalu ada cerita yang mengiringi. Selalu ada lika-liku sebelum akhirnya tercapai mimpi yang sudah diimpikan sejak lama. Dan itu adalah cerita Dodi Prananda. Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu juga memiliki pengalaman serupa dengan penulis yang satu ini?



Masukan email kamu untuk berlangganan newsletter

comments powered by Disqus